Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, Banten, kini memiliki satu desa yang namanya semakin harum di kalangan pecinta gula merah tradisional. Desa Lebak Peundeuy, yang dipimpin oleh Jaro Jahid, berhasil menjelma menjadi sentra produksi gula merah berkualitas tinggi di wilayah tersebut.
Dengan luas lahan perkebunan kelapa yang mencapai ratusan hektare, hampir setiap keluarga di Desa Lebak Peundeuy memiliki pohon kelapa produktif. Setiap hari, puluhan tukang sadap atau “juru nira” bergerak dari pohon ke pohon sejak dini hari untuk mengambil nira segar. Nira tersebut kemudian diolah secara tradisional menjadi gula merah cetak yang khas berbentuk batok atau gula semut.
Salah satu penggerak utama perkembangan industri gula merah di desa ini adalah Samsul Maarif. Pria yang juga menjabat sebagai perangkat desa ini tidak hanya menjadi pengusaha sukses, tetapi juga berperan besar dalam pemberdayaan masyarakat.
“Saya mulai serius mengelola gula merah sejak tahun 2015. Awalnya hanya dari 50 pohon kelapa sendiri, sekarang alhamdulillah sudah mengelola lebih dari 2.000 pohon, baik milik sendiri maupun kerjasama dengan warga,” ujar Samsul Maarif saat ditemui di lokasi penggilingan miliknya.
Usaha gula merah milik Samsul Maarif kini mampu memproduksi hingga 2-3 ton gula merah cetak setiap minggu. Produknya tidak hanya dipasarkan di Banten, tetapi sudah merambah Jakarta, Bandung, hingga dikirim ke luar pulau melalui reseller dan marketplace.
Yang menarik, Samsul tidak hanya berorientasi profit. Sebagai perangkat desa, ia aktif mengajak warga lain untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Ia sering memberikan bibit kelapa unggul, pelatihan pengolahan nira yang higienis, hingga membantu pemasaran bersama.
“Kalau hanya saya sendiri yang maju, tidak akan jadi sentra. Makanya saya ajak warga lain ikut naik kelas. Sekarang sudah ada puluhan kelompok tani dan pengrajin gula merah di Lebak Peundeuy yang produknya layak ekspor,” tambahnya.
Jaro Jahid, selaku kepala desa, sangat mendukung inisiatif tersebut. “Kami dari pemerintah desa terus memfasilitasi, mulai dari perbaikan akses jalan ke kebun, bantuan alat produksi, hingga rencana membangun sentra pengolahan bersama. Harapan kami, Lebak Peundeuy bisa menjadi desa wisata agro berbasis gula aren sekaligus,” ungkap Jaro Jahid.
Kini, aroma manis gula merah yang menguar dari puluhan dapur penggilingan di Lebak Peundeuy bukan hanya sekadar bau hasil olahan nira, tetapi juga harapan baru bagi kemajuan ekonomi masyarakat desa. Keberhasilan Desa Lebak Peundeuy membuktikan bahwa komitmen kepemimpinan desa yang visioner dan pengusaha lokal yang peduli dapat mengangkat potensi desa menjadi kebanggaan daerah.
Komentar (0)